Halaman

Jumat, 19 November 2010

Etika Ketika Makan

Bismillah

Allah ta’ala berfirman :
“ Wahai para Rasul makanlah kalian dari makanan-makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal-amal yang shalih , sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian perbuatan “ (Al-Mukminun : 51 )

Dan Allah ta’ala berfirman :
“ Makan dan minumlah kalian dari rizki Allah dan janganlah kalian berlebihan dimuka bumi     sebagai orang-orang yang berbuat kerusakan “ – Surah al-Baqarah : 60 –

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :
“ Wahai anak kecil, makanlah dengan menyebut Bismilah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang terdekat denganmu “ (HR. Al-Bukhari ( 5376 ) dan ini merupakan lafazh Al-Bukhari, dan Muslim ( 2022 ), Ahmad ( 1589 ), Abu Daud ( 3777 ), Ibnu Majah ( 3276 ), Malik ( 1738 ) dan Ad-Darimi ( 2045 ))

Diantara adab-adab makan dan minum, sebagai berikut :

1.  Memulai makan dengan mengucapkan Bismillah.
 Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila salah seorang diantara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismilah.’ Dan  jika ia lupa untuk mengucapkan Bismillah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillahi Awwalahu wa Aakhirahu (dengan menyebut nama Allah di awal dan diakhirnya).’” (HR. Daud Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 3264)

2.  Hendaknya mengakhiri makan dengan pujian kepada Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa telah selesai makan hendaknya dia berdo’a: “Alhamdulillaahilladzi ath’amani hadza wa razaqqaniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin. Niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Daud, Hadits Hasan)
Ada banyak lafazh Alhamdulillah setelah selesai dari makan dan minum, diantaranya :
  1. “ Alhamdulillah katsiran mubarakan fihi ghairi makfiyyiin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu Rabbana “ Abu Umamah radhiallahu ‘anhu meriwayakan , beliau berkata : bhwa Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah selesai dari menyantap makanannya, beliau sekali waktu mengucapkan : “ Alhamdulillah katsiran mubarakan fihi ghairi makfiyyiin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu Rabbana “(HR. Al-Bukhari ( 5459 ) dan lafazh diatas adalah lafazh Al-Bukhari, Ahmad ( 21664 ), At-Tirmidzi ( 3456 ), Abu Daud ( 3849 ), Ibnu Majah ( 3284 ), Ad-Darimi ( 2023 ) dan Al-Baghawi didalam Syarh As-Sunnah ( 2828 )
  2. “ Alhamdulillah Alladzi kafaanaa wa arwaanaa ghaira makfiyyin wa laa makfuurin “ Dari Mu’adz bin Anas dari bapak beliau, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : Barang siapa yang makan suatu makanan, kemudian dia mengucakan : Alhamdulillah alladzi ath’amaniy hadza wa razaqniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin , segala dosanya yang telah lampau akan diampuni “(  HR. At-Tirmidzi ( 3458 ), dan beliau berkata : Hadits ini hasan gharib “. Dan Ibnu Majah ( 3285 ) dan Al-Albani menghasankannya ( 3348 )) 
  3. “ Alhamdulillah alladzi ath’amaniy hadza wa razaqniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin. 
  4. “ Alhamdulilah alladzi ath’ama wa saqaa wa sawwaghahu wa ja’ala lahu makhrajan “ Abu Ayyub al-Anshari meriwayatkan, beliau berkata : “ Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  ma\kan atau minum, beliau mengucapkan : Alhamdulillah alladzi ath’ama wa saqaa wa sawwaghahu wa ja’ala lahu makhrajan “HR. Abu Daud ( 3851 ), al-Albani mengatakan : Shahih) 
  5. “ Allahumma ath’amtu wa asqaitu wa aqnaitu wa hadaitu wa ahbabtu, falillailhamdu ‘ala maa a’thaitu “ Dari Abdurrahman bin Jubair, bahwa seseorang yang telah melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  selama delapan tahun menceritakan kepadanya, bahwa dia telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  apabila beliau disodorkan makanan, beliau mengucapkan : “ Bismillah “ , dan apabila beliau selesai beliau mengucapkan : “ Allahummah ath’amtu wa asqaituwa aqnaitu wa hadaitu wa ahyaitu falillahilhamdu ‘ala maa a’thaitu “(Al-Albani mengatakan didalam As-Silsilah Ash-Shahihah ( 1 / 111 ) : HR. Ahmad ( 4 / 62 , 5 / 375 ) dan Abu Asy-Syaikh didalam Akhlaq An-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  , kemudian beliau menyebutkan sanadnya dan mengatakan : Sanad ini shahih kesemua perawinya tsiqat dan merupakan para perawi yang dipergunakan oleh Muslim .)

Atau bisa pula dengan doa berikut,

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَنْدًا كثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ غَيْرَ (مَكْفِيٍّ وَ لاَ) مُوَدَّعٍ وَ لاَ مُسْتَغْنَيً عَنْهُ رَبَّناَ
“Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidaklah dibutuhkan oleh Rabb kita.” (HR. Bukhari VI/214 dan Tirmidzi dengan lafalnya V/507)

3.  Hendaknya makan dengan menggunakan tiga jari tangan kanan.
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan menggunakan tiga jari.” (HR. Muslim, HR. Daud)

4.   Hendaknya menjilati jari jemarinya sebelum dicuci tangannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila salah seorang diantara kalian telah selesai makan maka janganlah ia mengusap tangannya hingga ia menjilatinya atau minta dijilati (oleh Isterinya, anaknya).” (HR. Bukhari Muslim)
 Apabila ada sesuatu dari makanan kita terjatuh, maka hendaknya dibersihkan bagian yang kotornya kemudian memakannya.
Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila ada sesuap makanan dari salah seorang diantara kalian terjatuh, maka hendaklah dia membersihkan bagiannya yang kotor, kemudian memakannya dan jangan meninggalkannya untuk syaitan.” (HR. Muslim, Abu Daud)

5.   Hendaknya tidak meniup pada makanan yang masih panas dan tidak memakannya hingga menjadi lebih dingin, hal ini berlaku pula pada minuman. Apabila hendak bernafas maka lakukanlah di luar gelas, dan ketika minum hendaknya menjadikan tiga kali tegukan.
Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk menghirup udara di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya.” (HR. At Tirmidzi)

6.   Hendaknya menghindarkan diri dari kenyang yang melampaui batas.
Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk bernafasnya.” (HR. Ahad, Ibnu Majah)

7.   Makan memulai dengan yang letaknya terdekat kecuali bila macamnya berbeda maka boleh mengambil yang jauh.
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Wahai anak muda, sebutkanlah Nama Allah (Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari Muslim)

8.   Disenangi makan dari pinggiran piring bukan bagian atasnya
Disebutkan pada hadits Ibnu Abbas – radhiallahu ‘anhuma -, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :“ Apabila salah seorang diantara kalian makan suatu makanan maka janganlah dia makan pada bagian atasnya, akan tetapi hendaknya dia makan pada bagian pinggirnya, karena sesungguhnya berkah turun dari bagian atasnya “. Pada lafadz riwayat Ahmad : “ Makanlah kalian pada bagian pinggir piring, dan janganlah kalian makan dari bagian tengahnya, karena berkah turun pada  bagian tengahnya “ (HR. Abu Daud ( 3772 ) lafaadz hadits diatas adalah lafazh pada riwayat Abu Daud, Ahmad ( 2435 ), At-Tirmidzi ( 1805 ), dan beliau berkata : Hadits ini hadits hasan shahih , Ibnu Majah ( 3277 ) dan Ad-Darimi ( 2046 )) 

Bagian tengah diberi kekhususan dengan turunnya berkah, karena tempat itu adalah tempat paling adil. Dan sebab dari larangan tersebut agar seseorang yang makan  tidak terharamkan baginya berkah yang berada dibagian tengah. Dan juga termasuk didalam hadits ini apabila yang makan lebih dari seseorang – berjama’ah -, karena seseorang diantara mereka yang mendahului mengambil dibagian tengah makanan sebelum bagian pinggirnya, telah melakukan adab yang jelek kepada mereka, dan mementingkan diri sendiri untuk suatu yang baik selain dari mereka, Wallahu a’lam.
 
9.   Disenangi mengambil butiran yang terjatuh, membasuh yang menempel padanya lalu memakannya.
Dijelaskan pada hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :“ Apabila butiran makanan seseorang diantara kalian terjatuh, hendaknya dia mengambilnya, lalu membersihkan kotoran yang menempel kemudian memakannya dan jangan dia membiarkannya sebagai makanan syaithan … al-hadits “ Pada riwayat lainnya :“ Sesungguhnya syaithan ikut menghadiri makanannya. Maka apabila salah seorang diantara kalian terjatuh makanannya maka hendaknya dia membersihkan kotoran yang menempel padanya kemudian  memakannya dan tidak menyisakannya untuk syaithan. Dan apabila dia telah menyelesaikan makannya hendaknya dia menjilat tangannya karena sesungguhnya dia tidak mengetahui makanan manakah yang ada berkahnya “ (HR. Muslim ( 2033 ) dan Ahmad ( 14218 )
 
10.  Disenangi berbicara ketika menghadapi makanan
Selama ini, di sebagian daerah bila ada orang makan sambil bicara dianggap tabu. Sudah saatnya anggapan demikian kita hapus dari benak kita, sunnah Nabi menganjurkan makan sambil bicara. Hal ini bertujuan menyelisihi orang-orang kafir yang memiliki kebiasaan tidak mau berbicara sambil makan. Kita diperintahkan untuk menyelisihi mereka dan tidak menyerupai mereka dalam hal-hal yang merupakan ciri khusus mereka. Ibnul Muflih mengatakan bahwa Ishaq bin Ibrahim bercerita, “Suatu ketika aku makan malam bersama Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad bin Hanbal ditambah satu kerabat beliau. Ketika makan kami sedikit pun tidak berbicara sedangkan Imam Ahmad makan sambil mengatakan alhamdulillah dan bismillah setelah itu beliau mengatakan, “Makan sambil memuji Allah itu lebih baik daripada makan sambil diam.” Tidak aku dapatkan pendapat lain dari Imam Ahmad yang secara tegas menyelisihi nukilan ini. Demikian juga tidak aku temukan dalam pendapat mayoritas ulama pengikut Imam Ahmad yang menyelisihi pendapat beliau di atas. Kemungkinan besar Imam Ahmad berbuat demikian karena mengikuti dalil, sebab di antara kebiasaan beliau adalah berupaya semaksimal mungkin untuk sesuai dengan dalil.” (Adab Syariyyah, 3/163) Dalam al-Adzkar, Imam Nawawi mengatakan, “Dianjurkan berbicara ketika makan. Berkenaan dengan ini terdapat sebuah hadits yang dibawakan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam sub “Bab memuji makanan”. Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab al-Ihya mengatakan bahwa termasuk etika makan ialah membicarakan hal-hal yang baik sambil makan, membicarakan kisah orang-orang yang shalih dalam makanan.” (al-Adzkar hal 602, edisi terjemah cet. Sinar baru Algen Sindo
 
11.  Mendahulukan makan dari pada shalat ketika makanan telah dihidangkan
Pada hadits Anas radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  , beliau bersabda :“ Apabila hidangan makan malam telah dihidangkan dan shalat telah didirikan makan kalian mulailah dengan makan malam “(HR. Al-Bukhari ( 5464 ), Muslim ( 557 ), Ahmad ( 12234 ), At-Tirmidzi ( 353 ), An-Nasa`I ( 853 ) dan Ad-Darimi ( 1281 ) Dari Ibnu Umar radhiallahu ;anhuma, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “ Apabila makan malam salah seorang diantara kalian telah dihidangkan sementara shalat telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam kalian dan janganlah seseorang tergesa-tergesa hingga dia selesai dari makannya “ HR. Al-Bukhari ( 673 ), Muslim ( 559 ), Ahmad ( 5772 ), At-Tirmidzi ( 354 ) Dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma , apabila dihidangkan makan malam beliau sementara waktu shalat telah datang, beliau tidak beranjak dari makan malamnya hinga  menyelesaikannya. Imam Ahmad meriwayatkan didalam Musnad-nya dari Nafi’ bahwa Inu Umar seringkali mengutus beliau sementara beliau dalam keadaan berpuasa, dan dihidangkan kepada beliau makan malamnya sementara panggilan shalat maghrib telah dikumandangkan, lalu kemudian iqamah shalat dan beliau mendengarkannya, namun beliau tidaklah meninggalkan makan malam beliau dan tidak juga trgesa-gesa hingga beliau menyelesaikan makan malamnya, lalu beliau keluar untuk mengikuti shalat .
 
Disadur dari berbagai sumber seperti Adab adab Harian Muslim, Ibnu Katsir

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Allahu Akbar, betapa jahilnya diri ini. Betapa jauhnya ana dari as-sunnah, ajaran Rasulullah yang penuh hikmah.
    Jazakallahu khairan akh atas artikelnya, zadakallahu 'ilma an-nafi'a

    BalasHapus